Berprestasi

Mengutip pendapat Paul J. Meyer : “90% dari mereka yang gagal sesungguhnya tidak  kalah. Hanya saja mereka menyerah.”

 

Jauh sebelum kalimat itu muncul  ada sebuah kisah nyata yang menimpa sang Hujjatul Islam Imam Ghozali. Kegemaran beliau dalam menulis sangat dikagumi oleh para ‘ulama zaman itu, ilmu dan hikmah yang didapat dicatatnya tanpa terlewat, hingga satu hari dalam pengembaraannya menghadapi peristiwa yang sangat membahayakan keselamatan jiwanya, yaitu ketika perjalanannya dihentikan oleh segerombolan perampok. Perampok itu merebut seluruh barang bawaannya tak terkecuali catatan-catatan ilmunya yang sangat berharga. Imam Ghazali dengan keras berusaha merebut kembali kekayaan ilmu yang terkumpul dalam buku catatannya, tetapi para perampok itu malah mencemooh dan mengoloknya, ilmu macam apa yang adanya cuma dalam catatan. Karena olok-olokan itu justeru memantik kecerdasan dan kejernihan pikirannya hingga muncul maqalah yang sangat terkenal “Al ‘ilmu fish shudur wa la fissutur” bahwa ilmu tidak berhenti pada tulisan dan catatan tetapi erat menyatu dalam dada manusia.

 

Peristiwa ini memberi dorongan besar bagi Imam Ghazali untuk mengubah pola  belajar, dari hanya menulis menjadi menghafal, hingga tak satupun kalimat dari tulisannya yang tidak tersimpan dalam server otak dan jiwanya sehingga kemampuan menghafalnya dahsyat dan gelar Hujjatul Islam layak untuk disandangnya.

 

Bukan hanya Imam Ghazali bila cermat mengamati pada setiap peristiwa yang terjadi dari  waktu ke waktu atau pada manusia-manusia besar yang lahir dari zaman ke zaman, tidak satupun dari mereka yang hidupnya nyaman, mewah tanpa pernah mengalami kegagalan dan kesulitan tetapi satu kesimpulan yang pasti bahwa prestasi yang berhasil  mereka wujudkan mereka lalui dengan perjuangan berat dan panjang, perjuangan tanpa kata menyerah, ancaman dan kesulitan dirasakannya sebagai menu makan yang tersaji untuk lahap dinikmati dengan penuh kesabaran dan jiwa istiqomah.

 

Orang berprestasi adalah orang yang pantang menyerah, kegagalan dan kesulitan ibarat pokok bahasan dalam setiap buku pelajaran, yang masing-masing harus dipelajari dan difahami agar dapat menguasai ujian berikutnya. Menyerah sesungguhnya adalah biang dari keagagalan, menyerah tak ubahnya virus mematikan terhadap kesuksesan  menggapai prestasi. Bila ingin berprestasi gantilah kata menyerah dengan kerja keras, walau berpeluh pantang mengeluh walau berdarah pantang menyerah.

 

Agar kesuksesan yang dicapai meraih point besar, maka energi perjuangan tersebut diarahkan kemana, untuk menggapai apa ? dalam hal ini Rasulullah Saw. tegas memberi tuntunan “Khoirun nasi anfa’uhum linnas.” Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia yang lain. Kemanfaatan apa yang diberikan pada orang lain ? itulah pertanyaan penting berikutnya. Ibnul Qayyum al Jauziy memberi jawabannya :


 

  1. Setiap bertambah ilmunya, bertambahlah tawadlu’ dan kasih sayangnya.

 

  1. Setiap bertambah amalnya, bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya.

 

  1. Setiap kali bertambah umurnya, berkuranglah kerakusan dan ketamakannya.

 

  1. Setiap bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanan dan pengorbanannya.

 

  1. Setiap kali kedudukannya bertambah, bertambah pula kedekatan dan pemenuhan pada kebutuhan sesama manusia serta rendah hati terhadap mereka.


 

Waallahu a’lam bis shawab.

http://www.alhikmahsby.com/ind/?mod=news&id=276